Skip links

I Gusti Ngurah Adi Putra” (Agung Alit)


Agung Alit dilahirkan oleh pasangan suami istri I Gusti Gede Rai dan I Gusti Nyoman Sari pada tanggal 8 Mei 1963. Agung Alit dilahirkan di Desa Bona,Bali. Agung Alit belajar memainkan gamelan sejak berumur 10 tahun. Instrumen gamelan Bali yang pertama kali Gung Alit Mainkan adalah kendang. Pada saat itu Gung Alit menjadi tukang kendang di sekehe Gong di desanya. Sejak itulah Gung Alit piawai memainkan berbagai instrument gamelan Bali dan kemampuannya terus bertambah hingga Gung Alit dapat memainkan  instrument yang berasal dari luar Bali, bahkan luar Indonesia. Pada saat yang sama, Gung Alit mengembangakan bakat musikalnya, Gung Alit Juga menjadi pemahat kayu dan pengrajin tradisional. Dengan ini timbul ketertarikannya untuk membuat instrument musik sendiri. Gung alit juga dikenal dengan pengrajin instrument musik  yang memanfaatkan hasil alam (alami) yang tentunya menghindari menggunakan bahan-bahan non-organik.  Gung Alit terus berkarya hingga batas akhir kreatifitas manusia seni. Beliau dan seniman Bona Alit lainnya telah membuat ratusan instrument musik,  termasuk instrument gamelan tradisional Bali. Alat musik buatannya yang paling terkenal adalah rebab/erhu ( chordophone 2 strings) Yang dikoleksi oleh beberapa komunitas world music di dunia. Kurang lebih selama 15 tahun, Gung Alit mebuat bermacam-macam alat music Bali dan Asian Flutes lainnya dan baru-baru ini Gung Alit memperoleh Japanese Shamisen (Japanese Banjo).


Gung Alit juga telah menciptakan beberapa instrument diantaranya flute yang sangat besar (3 meter) dan Bamboo Wind Antenna Flutes. Semua instrument yang Gung Alit ciptakan, telah digunakan pada albumnya sendiri yaitu Kishi-kishi. Ayah dari Gung Alit, I Gusti Rai membimbing dengan keras hidupnya. Ayah dari Gung Alit telah menciptakan Balinese Kecak Monkey Dance dan Fire Dance yang cukup terkenal, yang juga sering melakukan kolaborasi dengan seniman dunia. Meskipun Gung Alit adalah pemain/komposer world music yang baik, beliau tidak akan pernah melupakan suling Bali atau alat music asli Bali lainnya. Ini bisa kita saksikan pada performance Bona Alit atau pada album Kishi-kishi.

BACA  I Made Sidia, SSP, M.Sn.


Agung Alit merupakan tergolong dalam orang yang hardworker, Gung Alit bekerja tanpa lelah untuk mendorong generasi muda seniman Bali, tidak hanya dalam seni tradisional tetapi juga dalam seni dan budaya dari dunia yang lebih luas. Dengan karir sendiri sebagai contoh, Alit terus mengilhami murid-muridnya untuk memperluas perspektif mereka secara artistik. Dia merasa bahwa generasi muda Bali memiliki kemampuan alami untuk belajar dan beradaptasi, dengan memandang dunia menjadi lebih kecil dan seni menjadi lebih dinamis dan. Selanjutnya ia merasa bahwa adaptasi tersebut sangat penting dalam menjamin kelangsungan hidup seni tradisional Bali.

Agung Alit mendirikan Sanggar Bona Alit (Alit Art Space Bona & Studio) pada tahun 1996 sebagai pusat inspirasi artistik dan pendidikan, yang bertujuan untuk melestarikan musik tradisional Bali.